Sabtu, 12 Januari 2013

Kisruh KPSI Vs PSSI Membuahkan Raja, Semut dan Sampah

Kisruh sepakbola di tanah air bukan hanya persoalan olahraga. Kepentingan ekonomi para pelaku sepakbola juga mewarnainya. Jika yang dimaksud adalah klub professional dan pemain sepakbola yang memiliki kepentingan, itu sah-sah saja. Sepakbola di banyak belahan dunia adalah industri dan ekonomi. Di Italia, Inggris dan Eropa Barat dan juga di Amerika Latin, sepakbola adalah ekonomi. Di beberapa Negara sepakbola dicampuradukkan dengan politik. Barcelona selalu disamakan dengan Basque dan Katalan. Juga di Kolombia sepakbola menjadi bagian dari perseteruan kartel obat bius sekaligus nasionalisme. Kasus Pablo Escobar yang ditembak mati selepas dia melakukan gol bunuh diri di Piala Dunia 1994 adalah contoh nyata sepakbola mampu menarik dan memicu berbagai kepentingan dari penjudi, pengedar obat bius sampai politikus.
Di Indonesia paling kurang tiga kepentingan bermain (1) partai politik dan penguasa korup yang memanfaatkan dana APBD untuk kampanye dan pencitraan kepala daerah, (2) pelaku sepakbola dalam hal ini pengurus yang menggantungkan hidup dari sepakbola, (3) mafia judi yang memanfaatkan pemain yang lemah untuk kepentingan bandar judi sepakbola.
Pertarungan kepentingan itu mewarnai sepakbola Indonesia. Hasilnya bisa diduga. Prestasi Timnas jeblog. Lalau siapa yang diuntungkan? Mari kita telaah.
Kisruh PSSI tak lepas dari ketiga pertarungan kepentinngan tersebut. Tak ada yang salah memang jika para penguasa dan partai politik ingin mengembangkan sepakbola. Namun yang menjadi masalah jika keinginan itu bertujuan memanfaatkan dana APBD dan politik pencitraan. Dana APBD digelontorkan untuk sepakbola. Partai penguasa daerah yang menjadi ketua umum sepakbola daerah yang juga kepala daerah dengan seenaknya memanfaatkan dana tersebut untuk kampanye dan pencitraan. Padahal uang perputaran roda sepakbola dari pajak rakyat. Skor: Pengurus PSSI Korup 1 - 0 Rakyat.
Lalu lahirlah KPSI dan muncul dualisme kompetisi ISL dan IPL. Timnas kedodoran menghadapi berbagai pertandingan internasional akiibat boikot oleh klub-klub anggota ISL. Akibatnya tidak semua pemain potensial bisa masuk membela tim merah putih. Indonesia dipermalukan Bahrain 10-0 pada kompetisi resmi. Lalu Indonesia mengalami kekalahan melawan Brunei Darussalam. Peringkat FIFA Indonesia tercatat paling rendah dalam sejarah. Pengurus yang berseteru PSSI dan KPSI tertawa dan tidak peduli dengan prestasi. Skor: Pengurus PSSI dan KPSI 1 - 0 Prestasi Timnas Indonesia.
Dualisme ISL dan IPL menjadi senjata perusak. Penyebabnya tiga hal sudah jelas. Rakyat dan pecinta sepakbola disuguhi ketolololan demi ketololan oleh para petinggi PSSI. Keterlibatan keluarga Bakrie dan Golkar dalam kisruh PSSI yang dimotori oleh Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie serta dilanjutkan dalam perjuangan untuk menuju kehancuran bersama oleh La Nyalla Mattalitti. Cara keluarga Bakrie membeli Visse dan klub lain di Australia tidak serta merta bisa dijadikan petunjuk akan kepedulian mereka. Alasan paling utama adalah dengan mesin pengurus Sepakbola dan pejabat di daerah Aburizal Bakrie menyekenariokan bahwa rakyat pecinta sepakbola akan mendukung dirinya. Ini demi kekuasaan Golkar dan Aburizal Bakrie untuk menjadi Presiden. Menjadi Raja. Skor: Bakrie 1 - 0 Pecinta sepakbola.
Kisruh yang diciptakan dan kekeukeuhan La Nyalla Mattalitti yang membabi buta juga untuk kepentingan pribadinya. Kemenangan Golkar dan Bakrie diyakini oleh La Nyalla sebagai peluang untuk mendapatkan jabatan Menpora. Makanya sekarang biar dihujat sampai berdarah-darah, yang terngiang adalah hadiah di masa depan ketika Bakrie berkuasa. Makanya dalam berbagai kesempatan, La Nyalla tidak menunjukkan sedikitpun niat untuk berekonsialisasi.
Bagi La Nyalla lebih baik melihat PSSI di-banned dan suspended oleh FIFA dan prestasi jeblog daripada memberi kesempatan kepada Djohar Arifin dan PSSI berbenah. Taktik dan strategi dengan memberi kesempatan dulu, jika DAH gagal baru dijatuhkan pun tidak digunakan. Dalam politik seharusnya ada kesabaran. Namun rupanya La Nyalla seperti Nurdin Halid yang koruptor dan AB yang politikus ngawur, juga tertular oleh sikap dua mentor tersebut. Skor: La Nyalla 1 - 0 PSSI.
Dalam perseteruan ini, para pemain paling banyak dirugikan. Tidak ada untungnya menasionalisasikan para pemain seperti Greg, Lilipaly, dst dan juga para pemain naturalisasi yang bermain di ISL. Mereka yang telah mengorbankan kewarganegaraannya baik dari Belanda, Italia, Jerman, Nigeria, Uruguay dan seterusnya tidak mendapatkan kesempatan karena larangan oleh klub anggota ISL membela Timnas. Demikian pula para pemain bertalenta jebolan SAD Uruguay, mereka juga tidak bisa membela merah putih. Para pemain senior dan yunior pun dihadapkan pada kerugian dan dilemma antara membela Merah Putih dan menuruti klub yang melarang mereka bermain di Timnas Indonesia. Klub adalah darah bagi kebutuhan hidup pemain sepakbola. Serba susah.
Dalam kondisi dilematis para pemain seperti ini La Nyalla pasti tertawa. Djohar Arifin juga tak bisa berbuat banyak karena pada kenyataannya IPL kurang bermutu dan kurang penonton. Sementara ISL juga tidak menunjukkan itikad baik untuk misalnya mengizinkan semua pemain ISL untuk masuk Timnas agar masyarakat tahu kualitas ISL. Niatan pamer kebajikan tidak ada dalam diri La Nyalla. Semua pemain sepakbola ingin membela Timnas Indonesia. Namun La Nyalla Cs menghalangi mereka. Para pemain ISL menjadi tak berdaya dalam situasi seperti itu. Mereka berubah menjadi semut. Skor: La Nyalla Raja 1 - 0 Semut Pemain ISL.
Di tengah perseteruan itu, prestasi Timnas tanpa para pemain ISL yang disandera oleh klub dan pengurus juga terjun bebas! Yang tergambar dalam perspektif kita terciptanya Raja, Semut dan Sampah. Raja diwakili oleh Aburizal Bakrie yang ingin jadi presiden dan La Nyalla yang ingin menjadi Menteri di bawah Raja Aburizal Bakrie. Semut adalah para pencinta sepakbola Indonesia dan para pemain sepakbola Indonesia. Sampah adalah prestasi Timnas Indonesia selama politik kotor masuk dalam sepakbola. Bukti sampahnya prestasi adalah peringkat FIFA Indonesia paling rendah dalam sejarah. Ini akibat Raja melarang Semut membela Timnas dan akhirnya prestasinya menjadi junks alias Sampah!

olahraga.kompasiana.com/bola/2012/10/23/kisruh-kpsi-vs-pssi-membuahkan-raja-semut-dan-sampah-502975.html

0 komentar:

Poskan Komentar